Selasa, 19 Juni 2012

Ini Medan, Bung! (part. 4)

Wisata kuliner malam di Medan. Walau raga telah lelah, semangat mencicipi kuliner khas medan masih ada. :D

duren ucok :D

santap duren

menunggu nasi goreng

nasi goreng semalam suntuk



Ini Medan, Bung! (part. 3)

Terlalu malas untuk menulis. Akhirnya, memposting foto aja. :D 

Perhatian:

Postingan ini berisi konten-konten agak sedikit narsis. :P

Bila sudah eneug melihatnya, silahkan lihat postingan yg lain. :D 

Menuju istana maimoen

Jadwal berkunjung
orkes melayu

beranda
maket istana maimoen

koleksi raja maimoen 
kursi raja dan ratu maimoen

singgasana kerajaan maimoen

kursi raja dan ratu meimoen
ukiran indah

who's that girl? :P

bak puteri-puteri maimoen. hihi

bergaya bak puteri maimoe

ukiran indah

koleksi foto

megahnya istana maimoen

temaram

lampu antik istana maimoen
meriam buntung

meriam buntung

kelihatan gak buntungnya?

meninggalkan istana maimoen









Senin, 18 Juni 2012

Bragatasi (levitasi @braga)

berjalan di trotoar

menyeberang jalan

mengagumi lukisan

Jumat, 15 Juni 2012

Ini Medan, Bung! (part. 2)

Sinar matahari berebut masuk ke jendela hotel yang tertutup gorden. Saya berusaha membuka kelopak mata, mempersilahkan sinar menelusup masuk agar retina bisa mengenali bentuk dan warna. Dewi masih terlelap tidur. Jam 07.00. "Ahh, aku telat meminta kemudahan hari ini pada Tuhanku.."
medan dibalik tirai
Saya terbangun. Merasakan lilitan di perut. Memaksa saya berlari terbirit-birit ke kamar mandi. Sampah yang ada di kolon ini memaksa keluar, menekan rektum, berebut keluar melalui mulut anus.
"haaah..", bernapas lega.
Asam laktat masih menumpuk di otot-ototku akibat perjalanan semalam. Saya hidupkan keran dan putar ke arah kanan. Air mandi tak kunjung hangat.
"Sial, pantas saja semalam si pelayan hotel memberikan harga murah. Ternyata, sebanding dengan pelayananannya..grrr"
Karena insiden semalam, kami diberi special rate. Kami pikir pihak hotel memberikannya untuk mengobati kekecewaan kami. Ternyata, karena fasilitas di kamar tidak dalam kondisi full capacity. Mau tak mau, saya membiarkan air dingin ini membahasi tubuh saya.

The Trip is Beginning Now..

Insiden kecil kemarin malam tidak menyurutkan semangat kami untuk berkelana di kota ini. Sengaja kami tidak memilih bergabung dengan panitia lain dan menolak beberapa tawaran city guide dari teman atau temannya teman kami. Kami memberanikan diri, membiarkan diri kami tersesat, dan semoga saja kami tersesat di jalan yang benar.

Dari hotel tempat kami menginap, kami menaiki bentor menuju Mesjid Maimoen. Iya, Bentor, Beca motor. Kendaraan khas kota medan. Ini pengalaman pertama kami menaiki bentor. Tak sampai sepuluh menit, kami sudah tiba di Mesjid Maimoen. Mesjid ini terletak di perempatan jalan. Ia tak kalah megah dengan plaza yang ada di seberangnya.

Kami memasuki gerbang mesjid. Mesjid megah ini dinamai Mesjid Raya Al-Mashun, namun masyarakat lebih akrab dengan nama Mesjid Maimun karena letaknya yang dekat dengan Istana Maimoen. Ada beberapa hal yang dilarang dilakukan ketika memasuki tempat suci bagi umat Islam ini.

Peraturan tetaplah peraturan. Serangkaian kata yang dibuat oleh manusia. Larangan yang dibuat sebenarnya bertujuan untuk menjaga lingkungan di masjid dan sekitar masjid. Sayangnya, dengan tingkat kesadaran lingkungan masyarakat Indonesia yang rendah, terlebih tidak adanya pengawasan dari pihak berwenang, peraturan itu hanyalah menjadi hiasan. Yang berdiri di depan gerbang yang kokoh. :(

Di halaman masjid, ada beberapa anak, bahkan orang dewasa yang bermain bola. Tak heran bila kaca jendela mesjid yang cantik warnanya, yang umurnya ribuan tahun, ini seperti gigi yang tidak terawat. Lubang dimana-mana. :(

Kami menaiki tangga untuk menuju mesjid. Di depan pintu, berdiri penjaga sandal yang siap menomori dan menjaga alas kaki pengunjung yang akan memasuki mesjid. Kini tampak jelas lubang-lubang kaca jendela. Juga terasa kasarnya ubin yang tidak pernah digosok.

Kami masuk lebih dalam. Ketika memasuki ruang utama ini, baru terlihat dengan jelas bahwa bangunan Mesjid Maimoen berbentuk segi delapan. Ruangan ini dibagi dua, dibatasi oleh selembar kain tipis. Tentunya, bagian depan adalah tempat beribadah untuk para pria dan bagian belakang, tempat para wanita.

Kami sudah shalat dzuhur sebelum berangkat kesini. Sehingga, disini kami hanya mengambil beberapa gambar. Di mesjid, tampak beberapa tua beristirahat sembari menjaga peminjaman mukena bagi pengunjung yang tidak membawa mukena. Saya menghampiri salah satunya.
"Tuhkaan, padahal sudah nenek ingatkan untuk mengembalikan kembali mukena yang dipinjam, agar mesjid keliatan rapih, tapi tetap saja ada yang tidak mendengar..", keluh nenek kepada saya.
Saya berbicara dengan nenek berusia 90 tahun ini. Dari logatnya, saya bisa menebak darimana si nenek berasal. Yah, Sumatra Barat.
"Nenek asalnya mana..?"
"Siapa? Nenek? Oooh, nenek dari sumatra barat deek.." 
"Pantas. Logat bicara nenek gak asing buat saya. Tebakan saya berarti benar.."
"Emang adek asli mana?"
"Ooh, ibu saya orang Pariaman, nek. Sungai Limau? Tau kan? Bapak saya dari Wates, Jawa. Tapi, saya lahir dan besar di Bandung. Jadi, sudah gak kentara lagi minangnya. Gak bisa ngomong bahasa awak, tapi mengerti kok nek..hehe"
Malu-malu saya menjelaskan, malu karena sebagai orang minang, perempuan pula, tapi tidak bisa berbicara bahasa awak. Saat berbicara dengan si nenek, saya merasa bertemu lagi dengan alm. nenek saya yang wafat lima tahun silam. Aroma tubuh yang sama.

Namun, saya menghampiri si nenek bukan untuk mengenang alm. nenek. Saya ingin menggali informasi tentang tempat ini. Saya teringat kata si pacar, "Kalo jalan-jalan itu jangan cuma foto-foto, tapi juga gali informasi, cerita. Pasti ada pelajaran yang diambil dari cerita-cerita orang setempat..". Setiap kali kami (saya dan si pacar) mengunjungi suatu tempat, ia selalu mendorong saya untuk bertanya, menyatu dengan orang setempat. Namun, saya selalu enggan. Dan kini, saat saya tidak berpergian dengannya, saya malah terdorong oleh rasa keingin-tahuan saya.
 "Yang nenek tahu, ada cerita sedih waktu pembangunan mesjid ini. Dulu, katanya, waktu buat kubah mesjid ini, ada tiga orang jatuh dari atas. Liat saja kubahnya, tinggi kan?, jelas si nenek de.

Sebuah panggung, berdiri di tengah ruang beribadah bagi perempuan. Tangga menuju ke atas panggung melingkar di kanan-kirinya. Empat gulungan sajadah, dua di kanan-dua di kiri, dibentuk huruf X. Pertanda dilarang naik ke atas.
"Kenapa dihalangi kerpet sajadah begitu nek?"
"Itu, kadang-kadang ada anak-anak yang suka naik-naik ke atas. Padahal, sudah nenek peringati untuk tidak naik, tapi orang tuanya yang malah menyuruh si anak untuk naik-naik.."
Ada nada kedongkolan dari penjelasannya.
"Memang itu buat apa nek?"
"Itu nanti dipakai saat bulan Ramadhan, untuk shalat tarawih deek. Ada tiga laki-laki yang solat di atas sana. Kalo ganti rakaat, mereka yang akan bershalawat.."
Yah, hanya segitu. Tidak banyak cerita dan info yang bisa saya dapatkan dari si nenek. Namun, tak apa. Di depan, semoga banyak yang bisa saya dapatkan. Semoga. :)

naik bentor di medan :D
teman saya, Dewi, di bentor
Larangan di Mesjid Maimoen
Kemegahan Mesjid Maimoen
Keindahan Mesjid Maimoen
Gerbang Mesjid Maimoen
Tempat Wudhu
Menara Mesjid Maimoen
Lorong
Lorong
Panggung untuk pembaca shalawat
Kubah mesjid. Cantiknyaa..
Panggung Khutbah
Lampu
SETELAH DIPAKAI HARAP DILETAK DENGAN RAPI
Mesjid Maimoen kala senja














Kamis, 14 Juni 2012

Ini Medan, Bung! (part. 1)

Walaa, akhirnya kami sampai di kota si ucok. Meeedaaan! 

Saya dan seorang teman, dewi, ditugaskan untuk meliput kegiatan kantor di kota ini. Kami baru sampai di medan lewat tengah malam setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dan memancing emosi. Betapa tidak, penerbangan yang dijadwalkan pukul 19.45 belum juga terbang.  Tidak kami sangka, malam itu hujan turun deras. Kami juga tidak sepenuhnya menyalahkan pihak maskapai atas keterlambatan ini. Kami sadar hujan adalah kehendak alam. Tapi, perut yang lapar inilah yang membuat kami emosi. Terlebih, saat itu kami tidak membekali diri dengan makanan. Alhasil, selama menunggu, kami tidak hentinya menggerutu.

Sesekali, saya membaca buku bacaan yang selalu saya persiapkan untuk membunuh waktu. Dewi lebih memilih untuk berkicau di twitter. Setelah menunggu hampir tiga jam, cuaca mau berdamai. Hujan memang belum sepenuhnya reda. Pukul 22.30, akhirnya pesawat kami terbang.

Setengah satu malam, kami tiba di bandara Polonia. Cuaca di kota ini tidak jauh beda dengan kondisi di bandara soetta dua jam yang lalu. Hujan rintik-rintik, seakan malu-malu menunjukkan keganasannya. Kami sebenarnya sudah mengantongi alamat hotel dimana kami menginap. Tapi, kami kebingungan. Tidak tampak ada taksi berlogo burung biru. Beberapa supir yang melihat wajah kebingungan kami menawarkan jasanya. Mereka mengklaim bahwa taksi mereka adalah taksi bandara. Kami berdua tidak yakin. Jelas saja, dari semua penampakan taksi-taksi itu, tidak ada yang meyakinkan kalau taksi mereka adalah taksi bandara. Supir taksi tidak berseragam, kondisi taksinya pun kurang terawat. 

Kedua alat komunikasi yang kami punya tidak lagi punya power. Tidak ada seorangpun yang bisa kami tanyai. Dua gadis, tengah malam, di kota asing. Kami tidak punya pilihan. Akhirnya, kami memberanikan diri. Kami menerima tawaran seorang supir sedari tadi terus membujuk kami.

Kami menumpangi taksi eeuuh…entah apa nama taksinya. Saya tidak ingat. Hmm, atau memang tidak ada nama dan logonya yah? Entahlah. Malam itu, saya dan dewi cukup lelah untuk hanya mengingat nama taksi yang kami tumpangi. 

Kami masuk, merebahkan diri ke kursi mobil. AC mobil yang mengalir kencang ini langsung terasa di kulit. Si supir menyetel lagu berbahasa batak. Sama kencangnya dengan AC mobil yang menerpa badan kami yang lelah. Huf, tidak ada di antara kami yang meminta si supir untuk mengecilkan AC mobil atau volume musiknya. Kami terlalu malas, lelah, bahkan untuk berbicara. Mata kami sudah lima watt. Redup.

Saya melihat keadaan mobil. Mobil ini lebih tampak seperti kendaraan pribadi. Tidak ada identitas pengemudi. Beberapa hiasan mobil tergantung dekat kaca spion. Juga, tidak ada argo yang biasanya menghiasi di setiap taksi. 
“Gak, pake argo bang?”
“Gak.”
“Jadi, tarifnya berapa, bang?”
“yah, biasanya lah. Tujuannya kemana?”
“hotel novotel, jalan Cirebon..”
“oooh, itu di kota. Deket. Enam puluh ribu saja..”
Tidak ada tawar-menawar. Kami segera mengiyakan. Kami hanya ingin cepat tiba di hotel. Bayangan kasur putih, bersih nan empuk sudah ada dalam pikiran saya.
“datang darimana dek?”
Pak supir membuka obrolan. Saya enggan menjawab. Kini, Dewi yang mengambil alih pembicaraan. Dia mengaku bahwa kami adalah pegawai magang yang akan membantu pelaksanaan kegiatan kantor dan sedang kuliah di Jakarta. Yaah, sedikit kebohongan tak apalah. :D
Sedangkan si supir mengaku bahwa ia pernah menetap lama di Jakarta. Istri dan anaknya kini masih tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Tambun.

Sepuluh menit saja, kami sudah tiba di Novotel. Sepi sekali. “Wajar saja, ini kan jam satu malam..", pikir saya. Segera kami menghampiri meja lobby, meminta kunci kamar hotel yang sebelumnya telah dipesan.

Dan, lagi-lagi..ada saja hal yang tidak beres. Kamar yang kami pesan telah dialihkan untuk orang lain. Panitia beralasan karena sampai tengah malam tadi kami belum sampai di hotel dan kami tidak bisa dihubungi. 
Hati saya mendongkol.
"Jelas saja, saat itu kan kami masih di pesawat. Semua alat komunikasi dilarang untuk  dinyalakan..heuh.."
Kami mencoba menghubungi panitia. Kami menjelaskan alasan keterlambatan kami. Cuaca buruk, penerbangan ditunda, HP tidak aktif. Kami berharap ada respon dari panitia. Setengah jam kami menunggu, dan selama itu pula tidak ada respon dari panitia.

Oke. Saya kesal. Saya marah. Saya kembali menghampiri lobby. Meminta kejelasan nasib kami. Seorang pelayan hotel membantu kami menghubungi panitia acara.
"Yaudah mas, dibuka satu kamar lagi ajah..", jelas seorang panitia di ujung telepon sana.
 "Maaf mbak, gini, malam ini semua kamar sudah full booked..", jawab si pelayan hotel.
Hati ini semakin dongkol.
"Gila yaah, dua orang perempuan, baru tiba dari luar kota pada dini hari, ditelantarkan begitu saja..", gerutu saya dalam hati
Bukannya apa-apa. Panitia yang mengurus akomodasi itu juga seorang perempuan. Mengapa dia tidak bisa memposisikan dirinya sebagai kami.

Pelayan hotel masih berbicara dengan panitia untuk mendapatkan cara terbaik yang bisa didapatkan. Segerombolan penghuni hotel yang baru datang setelah bersenang-senang selewat memperhatikan kami. Saya berpikir, berusaha mencari cara. Mencoba menghubungi panitia lainnya.
dari: putri
ke: 08119xxxxx
Mas, ini putri ama mbak dewi. Kami baru dtg dr jkrta, td pesawat delay karna cuaca buruk. kami br dtng jam 1 pagi ini, dan kamarnya fullbooking, sementara semua kamar yang udah dibooking udah ada isinya semua, gimana ya?
dari:  08119xxxxx
ke: putri
Aq jg ga tau solusinya, maybe join kamar 913 pake extrabed. Jam 23.30 aq tlp hpmu gak msk2 utk confirm jd pake novotel gak, krn gak ada konfirmasi drmu kita pastiin km pake htl lain krn km hny sms jam 17 td itu aja, pak mamang jam 24 mlm td akhirnya pake kamarmu, dan skrg dihub dia uda tdr hp ga diangkat2
Darah saya seketika naik ke kepala. Alasan yang sama. Saya berusaha tenang. tenang..tenaaang..te..naaang..teeee..nang.. Saya tidak mau memperpanjang masalah ini lagi. Walaupun dada ini masih bergetar, saya berusaha membalas pesan singkat tersebut dengan bijak.

dari: putri
ke: 08119xxxxx
Iya mas. Kami kan msh d pesawat jam segitu. Jkrta ujan besar bgt. Jd Penerbangan di delay 2,5 jam. Selanjutnya, ini jd pembelajaran ajah buat kita bersama mas. Lain kalo, jgn pake asumsi. Makasih. Maaf menggangu. :)
Senyuman yang saya berikan dalam pesan singkat tentunya bukan senyum ikhlas, tapi senyum sinis. Dan saya berharap, mas mas ini bisa merasakan senyum sinis saya. :)
Yaah, Tuhan akhirnya menolong kami. Baru saja ada penghuni yang mengosongkan kamarnya. Kami menunggu setengah jam (lagi). Setelah kamar siap dipakai, kami segera menuju kamar.
"Kasuur..kasuur..saya ingin merebah..aah, kasuurr.."

  **bersambung**







Senin, 04 Juni 2012

Roti Maryam

Roti Maryam. Nama roti ini memang masih asing di telinga orang Indonesia. Juga jangan bayangkan roti ini berbentuk seperti seorang wanita bernama Maryam yang banyak dikisahkan dalam al-kitab.
"Rasanya? Euum, enak put! Apalagi kalo dimakan sambil ditemani segelas susu kambing..", celoteh teman kantor saya.
Begitulah awal saya tertarik mencoba roti ini. Berawal dari cerita seorang teman kantor saya yang doyan makan, akhirnya sepulang dinas dari kota seribu angkot, Bogor, saya membeli sepotong roti maryam di Stasiun K.A. Bogor. Tidak Mahal, hanya 3 ribu rupiah untuk sepotong roti maryam yang bergizi tinggi dan kaya protein ini. Seperti yang penjualnya klaim di kertas pembungkusnya.

Roti Maryam. Bergizi tinggi. Kaya protein.
 
Tak hanya menjual roti yang sudah siap santap, si penjual juga menawarkan roti maryam yang masih mentah. Untuk 5 lembar roti maryam mentah ini dihargai 14 ribu. Memasaknya pun sangat mudah. Cukup panaskan panggan, kemudian taruh roti di atas panggan selama 2 menit. Walaa, roti maryam pun sudah siap disajikan. :D

Kemarin, sambil menunggu commuter line jurusan Bogor-Gambir, kali keduanya saya mencicipi roti yang lezat nan gurih ini. Makanan asal timur tengah ini sedap disantap saat hangat, dengan taburan gula halus di atasnya. Hmmm, nikmat.. :D

Lezatnya Roti Maryam
 Bila Anda sedang berada di Stasiun K.A. Bogor, jangan lupa untuk mencicipi roti maryam nan legit ini.

Kamis, 31 Mei 2012

Gadis Penjual Tisu


Malam semakin larut. Angin malam semakin dingin. Malam ini, saya duduk sendiri di warung makan. Menyantap bubur ayam hangat yang lama kelamaan mendingin, sedingin suasana di malam ini. Sendiri.

Seorang gadis kecil berambut panjang dengan kuncir kuda, gigi yang besar, dan kulit yang menghitam.Gadis itu membawa beberapa barang dagangan, mendekati saya.
 "mbak, tisunya mbak?"
“gak, makasih dek..”, jawabsaya. Masih dingin.
Saya melanjutkan huapan yang sempa ttertunda ketika mendapati tawaran gadis tersebut. Saya berpikir sejenak dan….berubah pikiran.   
“dek, dek, bentar, satu tisu berapaan dek?” 
“lima ribu mbak..”
“gak ah kalo gitu..” 
“tiga ribu deh mbak..”  
“oke. Satu yaah.. “
 Saya mengeluarkan dua lembar dua ribuan dari dompet saya.
“ada kembali seribu gak dek?"
“ada mbak..”
Di tangannya, dia kepal satu lembar seribuan dan satu lembar dua ribuan sambil membawa beberapa dagangannya. Tak hanya menjual tisu, ia juga menjual puzzle. Tapi, sepertinya baru satu tisu yang berhasil dia jual malam ini. 
“sekolah gak dekk?”
“sekolah mbak..”
“kelas berapa?”
“kelas dua mbak..”
Tertegun hati saya. Hari sudah malam, namun gadis ini masih bercengkerama dengan keramaian jalanan untuk mencari ratus, ribu rupiah. Juga, tak tampak gurat kelelahan maupun keterpaksaan di wajahnya. Bila ada lomba semangat, pastilah saya kalah bila bertanding dengan gadis kecil ini.
Yang juga membuat saya kagum adalah bahwa ia tidak meminta-minta. Ia memilih untuk berjualan. Menjemput rejekinya bukan dengan menengadahkan tangan ke atas, tapi dengan berusaha.
Sekolah yang rajin yah deeek.., ini kaka tambahin..”
Sebuah pelajaran sederhana bagi saya malam ini.

Bubur Ciamik


Hari ini, sehabis menonton Lockout, saya menuju daerah Statiun Cikini. Mencari penganan makan malam. Ada banyak warung makan, restoran, maupun pedagang kaki lima yang menawarkan beraneka ragam makan malam di sana. Dan kali ini, saya memilih sebuah warung makan yang berada tepat di seberang KFC Cikini.

Burcik. Begitulah si pemilik (H.R. Sulaiman) menamai warungnya. Lokasi tepatnya ada di Jalan Raya Cilosari No. 121 A Cikini, Jakarta Pusat. Burcik adalah singkatan dari Bubur ayam Cikini khas Cirebon, yang juga merupakan menu andalan dari warung ini. Tapi, warung ini tidak hanya menjual bubur ayam.Ada martabak telor.Tinggal pilih, Anda mau dengan 6 telor? 5? 4? 3? 2? 1? Juga ada mie goreng/rebus, nasi goreng, dan yang tak kalah unik, Nasi Goreng Otokowok. :D

Karena ini pertama kalinya saya makan disini, tentu say amemesan menu yang paling hits.Bubur Ayam khas Cirebon. Anda bisa memilih, mau diberi telor mentah atau tidak? Saya sih tidak suka melahap makanan hewani mentah-mentah, saya memilih bubur ayam tanpa telor.

Sebentar saja saya menunggu, makanan sudah datang. Hoof, Panas sekali. Lidah saya hampir terbakar. Anda harus hati-hati bila memakannya kalau tidak mau lidahnya terbakarsepertisaya. Wohoho. Tapi, sepertinya si juru masak memang sengaja menyajikannya dalam keadaan panas, agar telor mentah yang dicampurkan ke dalam bubur bisa matang. Bubur disini sedikit lebih encer. Di atasnya, ditaburi ayam suwir, kerupuk emping, dan euum….saya tidak yakin, tapi sepertinya juga ditaburi tepung krispi dari ayam goreng krispi. Di atas meja telah disediakan kecap asin, kecap manis, dan sambal. Jadi, jangan heran kalau rasa bubur ini sedikit hambar. Karena, Anda bisa meracik sendiri sesuai dengan selera Anda.
Menurut penilaian saya, dari skala 1 sampai 5, bubur ini saya kasih nilai 3,5. Ciamik.
Berikut penampakannya.

bubur ciamik

Harga semangkuk bubur ayam tanpa telor adalah 13 ribu saja. Harga semangkuk bubur dengan telor adalah 15 ribu saja.

Bagaimana?Anda tertarik mencoba burcik khas Cirebon ini? Kalau saya sih ingin kembali ke warung ini untuk mencoba nasi goreng otokowok. Penasaran seperti apa rasanya~


Kamis, 12 April 2012

MENGAPA ANAK JALAN ENGGAN BERSEKOLAH?

      Anak Jalan merupakan salah satu masalah sosial yang sangat pelik yang dihadapi oleh pemerintah daerah atau pemerintah kota di Indonesia.
      Di Jakarta, masalah anak-anak jalanan telah memusingkan pemerintah provinsi maupun pemerintah kota. Anak-anak jalanan tersebut selain menimbulkan pemandangan yang kurang sedap karena berkeliaran di pinggir jalan protokol, terutama di lampu merah, juga aktivitas mereka sebagai pedagang asongan, pengamen, membersihkan kaca mobil, dan pengemis, bagi banyak pihak, khususnya pengemudi kendaraan, dirasakan cukup mengganggu.
      Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya tidak tinggal diam. Telah banyak upaya yang dilakukan mulai dari mengumpulkan mereka di rumah singgah, mendidik dan membina, sampai kepada memulangkan mereka ke tempat asar. Tetapi, jumlah anak jalanan tetap saja tidak berkurang dan aktivitas mereka tidak terhenti. Pertanyaan yang muncul adalah apa penyebab kegagalan program-program penanggulangan anak-anak jalanan tersebut? Ada banyak alternatif jawaban. Tetapi uraian ini hanya melihatnya dari sudut pandang ekonomi.
       Ilmu ekonomi berpandangan apapun yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang umumnya selalu dilakukan berdasarkan pertimbangan untung-rugi. Dengan kata lain, ilmu ekonomi berpandangan bahwa anak-anak jalanan pun bertindak rasional. Mereka akan tetap menjadi anak jalanan selama biaya ekonomi (opportunity cost) sangat kecil. Dengan kata lain mereka akan menolak mengikuti program-program pembinaan yang diberikan pemerintah, jika dianggap biaya ekonomi dari mengikuti program-program tersebut amat besar.
      Untuk memperjelas pembahasan, kota fokuskan pembahasan pada kegagalan program penyekolahan anak-anak jalanan. Kegagalan tersebut membawa kepada pertanyaan. "Mengapa anak-anak jalan enggan bersekolah?". Dari sudut pendang ilmu ekonomi, jawabannya sangat jelas, yaitu biaya ekonomi dari bersekolah bagi anak-anak jalanan adalah sangat besar. Biaya ekonomi yang relevan bagi anak-anak jalanalan adalah sangat besar. Biaya ekonomi yang relevan bagi anak-anak jalanan dalam memutuskan untuk bersekolah atau tidak bersekolah adalah pendapatan yang dikorbankan jika mereka bersekolah.
      Anggaplah pendapatan bersih anak-anak tersebut dalam sehari minimal RP10.000,00. Dengan demikian bila anak-anak itu bersekolah, maka pendapatan yang dikorbankan per hari adalah Rp10.000,00. kalau hari sekolah per minggu adalah enam hari, berarti pendapatan yang dikorbankan adalah Rp60.000,00. Dalam sebulan pendapatan yang dikorbankan Rp240.000,00. Maka untuk sampai tamat Sekolah Dasar (SD) sajah, dengan anggapan tidak pernah tinggal kelas, pendapatan yang dikorbankan selama 6 tahun atau 72 bulan adalah Rp17.280.000,00. Dengan demikian biaya ekonomi dari bersekolah sampai tamat SD saja melebihi Rp17 juta.
      Selain pendapatan yang dikorbankan sangat besar, prospek penghasilan bagi anak-anak jalanan jika hanyamengandalkan ijazah SD saja sangat kecil. Penghasilan yang diperoleh dari bekerja dengan mengandalkan ijazah SD terlalu kecil dibanding penghasilan yang harus dikorbanka (opportunity cost) untuk mendapatkan ijazah tersebut.

Ditulis oleh Prathama Rahardja
dalam bukunya TEORI EKONOMI MIKRO Suatu Pengantar
LP-FEUI

Minggu, 01 April 2012

Jangan panggil aku.


Jangan panggil aku “sayang” jika darahmu masih berdesir tiap kali kau melihat wanita lain dengan gerakan meliuk-liuk.

Jangan panggil aku “cinta” jika tarikan nafasmu mendadak tak beraturan tiap kali kau mendengar desahan wanita lain bertelanjang dada itu.

Jangan panggil aku “beb” jika jantungmu berdegup kencang tiap kali kau melihat wajahnya yang menggoda. 

Jangan panggil aku “yank” jika kau merasa geli dengan serangkaian gerakan yang dia lakukan.

Jangan.

Jangan panggil aku.

Dan aku tidak sudi untuk memuaskan seluruh fantasimu.

02172012

Hari Mamah



Hari ke dua puluh dua bulan dua belas
Hari yang bagi kebanyakan orang merupakan hari yang spesial
Hari dimana seorang anak memeluk ibunya, mencium, berterima kasih
Hari ibu
Dua puluh dua tahun
Dan mungkin untuk ke-dua puluh dua kalinya, saya akan membiarkan hari ini terlewat begitu saja
tanpa pelukan
tanpa ciuman
tanpa ucapan
Selamat hari ibu, Mah..
*untuk kesekian kalinya, saya tidak berani menyampaikannya langsung

12222011